Wisata Jembatan Ampera dan Pusat Sejarahnya



Nusaku.id

 

WISATA JEMBATAN AMPERA DAN PUSAT SEJARAH NYA

 

Bismillahirrohmannirrohim….

Assallamualaikum. Wr. Wb.

            Mungkin banyak yang bertanya, dari sekian banyak tempat wisata di Nusantara kenapa aku harus memilih jembatan Ampera yang menjadi bahan tulisan ku. Satu alasannya, aku pernah mendengar sebuah kalimat, dimana bumi di tinjak, di situ langis di junjung, sebab itu lah aku memilih bahan ini, bukan kah aku harus bersyukur tentang apa pun yang aku rasakan saat ini. Disini ada banyak sekali cerita sejarah nya, salah satu nya tentang sejarah berdirinya jembatan ini.

            Dulu Jembatan Ampera ini, bernama Jembatan Bung Karno, karna untuk menghormati perjuangan dan semangat yang ada didalam pejuang Indonesia .Pembangunan jembatan ini pun dimulai pada bulan April Tahun 1962, untuk biaya pembangunannya diambil dari dana perampasan perang Jepang. Bukan hanya tentang biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari Negara tersebut.

            Sewaktu dulu Jembatan ini punya keistimewaan tersendiri. Di tengah jembatan ini jalan nya dapat naik turun, namun itu hanya berlangsung kurang lebih 33 Tahun, sebab setelah itu, jembatan ini hanya berfungsi seperti biasanya. Semua Orang Palembang pasti mengetahui pasti tentang Jembatan ini dan sebuah cerita yang beredar di masyarakat.

            Dibawah jembatan itu, telah mengalir sebuah sungai, yang sering di sebut dengan Sungai Musi. Sejarah penamaan itu terjadi saat para bajak laut melintasi kawasan tersebut. saat itu di dalam Peta, sungai tersebut belum mempunyai sebuah nama, hingga sang Kapitan tertarik untuk memberi nama Mu Ci yang berarti ayam betina dan Mu Ci adalah sebuah nama bagi Dewi Ayam Betina yang memberikan keuntungan bagi manusia. Alasan pemberian nama itu karna sang Kapitan terkagum melihat begitu suburnya tanah di daerah tersebut , sayur mayur yg segar , tanaman kopi di tanah yg luas dan  menghutan dengan buah yang besar besar , begitu juga dengan cengkeh , kayu manis dan tanaman bumi lainnya. Semenjak saat itu sang kapitan memutuskan untuk menetap di daerah tersebut dan menuliskan Mu Ci di peta nya untuk menamai wilayah sungai tersebut, dari sang kapitan akhirnya tersebar keberadaan wilayah ini dan juga nama Mu Ci sesuai yg tertulis di peta kapitan sebelumnya .Dan selajutnya sama seperti banyak kisah lain yang sering terjadi, perubahan dari penyebutan nama asli nya , itu pun terjadi pada legenda sungai Mu Ci berubah dari mulut ke mulut selama beratus tahun menjadi MUSI untuk menunjuk daerah sungai yg mengalir di bawah jembatan ampera.

 

            Disuatu tempat pinggiran Sungai Musi, juga terdapat Pulo Kemaro, Seperti Jembatan Ampera dan Sungai Musi, Pulo Kemoro pun memiliki sejarah tersendiri. Diceritakan ada sebuah Legenda tentang kisah cinta 2 anak manusia.  Seorang Putri raja bernama Siti Fatimah yang di persunting oleh saudagar Tionghoa yang bernama Tan Bun An, pada zaman kerajaan Palembang, Siti Fatimah di ajak oleh Tan Bun An untuk menemui orang tua nya di daratan tiongkok, mereka menginap beberapa waktu disana, saat Tan Bun An dan Siti Fatima memutuskan untuk kembali ke Palembang, mereka di hadiahi 7 (tujuh) buah guci oleh orang tua Tan Bun An. Saat mereka telah sampai di perairan musi yang letaknya tidak jauh dari pulau kemaro, mereka memutuskan untuk membuka guci2 tersebut, alangkah tekejutnya Tan Bun An saat melihat isi dari guci2 itu adalah sawi-sawi asin. Tanpa berfikir panjang Tan Bun An langsung membuang guci2 tersebut ke sungai, namun guci terakhir terjatuh dan pecah di atas perahu layar, ternyata terdapat hadiah tersimpan di bawahnya, Refleks Tan Bun An langsung terjun kesungai untuk mencari guci2 yang telah ia buang tadi, bersama seorang pengawal setia nya, namun setelah beberapa waktu Tan Bun An, tidak muncul2 juga, Siti Fatima yang khawatir akan keadaan suaminya, memutuskan untuk terjun pula ke sungai, hingga ke tiga2 nya tidak muncul lagi, sejak saat itu warga sekitar sering mendatangi tempat tersebut untuk mengenang ketiga nya. Kisah cinta mereka telah berakhir di sana, namun terdapat banyak pelajaran dari kisah itu, Mulai dari kesabaran, cinta dan kepercayaan. Jangan pernah sekali pun bertindak bodoh, sebelum kamu memikirkan konsekuensi nya.

            Selain itu, di sekitar kawasan Jembatan Ampera juga terdapat sebuah bangunan museum Sultan Mahmud Badarudin II dan Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat).

            Di dalam museum Sultan Mahmud Badaruddin II kamu dapat menikmati sekitar 556 koleksi benda bersejarah, mulai dari bekas peninggalan kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang. Nama Sultan Mahmud Badaruddin II dijadikan nama museum ini untuk menghormati jasanya bagi kota Palembang. Museum ini berdiri di atas bangunan Benteng Koto Lama (Kuto Tengkurokato Kuto Batu) dimana Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) memerintah. Berdasarkan penyelidikan oleh tim arkeologis tahun 1988, diketahui bahwa pondasi Kuto Lama ditemukan di bawah balok kayu.

Benteng ini pernah habis dibakar oleh Belanda pada 17 Oktober 1823 atas perintah I.L. Van Seven House sebagai balas dendam kepada Sultan yang telah membakar Loji Aur Rive. Kemudian di atasnya dibangun gedung tempat tinggal Residen Belanda. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini dipakai sebagai markas Jepang dan dikembalikan ke penduduk Palembang ketika proklamasi tahun 1945.  Museum ini direnovasi dan difungsikan sebagai markas Kodam II/Sriwijaya hingga akhirnya menjadi museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Musium ini juga membuka peluang pada masyarakat yang ingin berkunjung dan melihat secara lengsung peninggalan Zaman Sriwijaya. Untuk Jam berkunjung museum ini adalah Senin hingga Kamis: 08.00 – 16.00 WIB, Jumat: 08.00 – 11.30; serta  Sabtu dan Minggu: 09.00 – 16.00. Untuk hari libur nasional akan tutup.

     

            Kalau dilihat Bentuk Monpera menyerupai bunga melati bermahkota lima. Melati menyimbolkan kesucian hati para pejuang, sedangkan lima sisi manggambarkan lima wilayah keresidenan yang tergabung dalam Sub Komandemen Sumatera Selatan. Sedangkan jalur menuju ke bangunan utama Monpera berjumlah 9, yaitu 3 di sisi kiri, 3 di sisi kanan, dan 3 di sisi bagian belakang. Angka 9 tersebut mengandung makna kebersamaan masyarakat Palembang yang dikenal dengan istilah “Batang Hari Sembilan”. Sementara tinggi bangunan Monpera mencapai 17 meter, memiliki 8 lantai, dan 45 bidang/jalur. Angka-angka tersebut mewakili tanggal proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Monpera juga dilengkapi dengan berbagai bangunan lain yang ada di sekitarnya, seperti pintu gerbang utama yang dibuat dengan 6 cagak beton. Angka tersebut melambangkan 6 daerah perjuangan rakyat Sumatera Selatan. Melewati gerbang utama, kalian akan menemukan gading gajah yang terbuat dari coran semen dan pasir. Gading tersebut melambangkan perjuangan rakyat Sumatera Selatan bak gajah mati meninggalkan gading. Pada gading gajah tertulis prasasti dan angka tahun diresmikannya Monpera. Simetris dengan prasasti gading gajah, terdapat dada membusung garuda pancasila yang ada pada dinding bangunan utama Monpera. Sementara pada bagian yang lain terdapat dua relief, relief pertama menggambarkan kondisi masyarakat saat pra kemerdekaan, sedangkan relief yang lain menggambarkan peristiwa perang 5 hari 5 malam. Masuk ke dalam bangunan utama Monpera, kalian akan menemukan berbagai koleksi sejarah yang berkaitan dengan perjuangan masyarakat Sumatera Selatan dalam menghadapi agresi militer Belanda II. Koleksi tersebut antara lain berupa foto dokumentasi, pakaian yang pernah digunakan para pejuang, senjata, buku, hingga mata uang yang pernah berlaku di NKRI. Bangunan Monpera yang penuh akan simbol-simbol merupakan upaya mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi mempertahankan kemerdekaannya. Sehingga monumen tidak hanya menjadi sekadar bangunan sakral yang menggambarkan kejayaan masa lalu belaka, tetapi lebih dari itu, monumen bisa menjadi wadah untuk terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur perjuangan nasionalisme bangsa Indonesia. Bila kalian penasaran dengan apa yang ada di dalam nya, kalian dapat mengunjungi tempat tersebut, dan mengabadikan segala hal yang ada disana.

            Saat kalian memutuskan berwisata disini, belum lengkap rasa nya bila belum menugunjungi tempat2 tersebut, di Palembang juga terdapat makanan khas Palembang, yang sering di sebut Pempek, sebuah olahan makanan yang bahan utama nya adalah sagu dan Ikan, terdapat beberapa jenis Pempek juga yang tersedia, ada Pempek Telur, Pempek Kates, Pempek Lenjer, Pempek Kapal Selam, Pempek Kulit, bahkan sekarang juga terdapat Pempek Kripsi, namun saat kalian ingin menikmatinya, saya sarankan untuk melengkapi nya dengan Cuka, Cuka yang di maksud adalah seperti kuah, namun pedas, bila kalian tidak tahan sama pedas, saya sarankan untuk tidak meminumnya, namun cukup di celupkan saja, karna tentunya, kalian juga belum terbiasa. Untuk pempek yang enak di Palembang, saya rekomendasikan untuk datang di Pempek Pak, Raden, Pempek, Candy atau pun Pempek Nony, sebenarnya banyak pula Tempat jual Pempek yang Enak, namun saya ingin merekomendasikan yang paling di percaya rasa nya.

 

            Demikian Artikel dari saya, semoga bermanfaat

Assallamualaikum Wr. Wb.

Comment

082113176505 (helpdesk)
contact@nusaku.id
nusaku.id
Copyright 2017 Nusaku.id